Loe_coe

Posted On Rabu, September 10th, 2008

Comments Dropped leave a response


glitter-graphics.com                               

                                   Pendeta dan Singa

Seorang pendeta baru saja selesai memberitakan injil di desa sebelah. Dalam perjalanan pulang, karena hari sudah hampir malam, ia pun nekat untuk mengambil jalan pintas, melewati hutan belantara.

Di tengah hutan, ia bertemu seekor Singa yang kelihatannya sangat lapar. Ia pun berlutut dan berdoa,

“Tuhan, tolong tutuplah mulut Singa ini, agar dia tidak bisa menerkam aku”.

Ketika selesai berdoa, ia melihat sang Singa juga sedang berdoa. Sang Pendeta pun mengucap syukur,

“Oh, Tuhan, terima kasih. Kau telah memberiku seekor Singa yang baik”. Sang Singa pun lalu berkata,

“Betulll !!!, aku adalah Singa yang baik. Aku selalu berdoa mengucap syukur sebelum menyantap makananku”.

                            Bukan Kita Pencurinya

Di suatu daerah perumahan di pinggir kota, tinggallah dua orang kakak beradik, umur 8 dan 10 tahun.

Kedua anak itu terkenal dengan kenakalannya yang luar biasa. Kalau ada sesuatu yang tidak beres terjadi di lingkungan tsb. pastilah karena ulah mereka. Orang tua kedua anak ini betul-betul sudah kuwalahan dan tidak sanggup lagi menangani mereka. Ketika mendengar ada seorang pendeta yang sering menangani kasus anak nakal, maka ibu ini segera berembug dengan suaminya supaya pendeta itu berbicara dengan kedua anak mereka. Suaminya langsung saja setuju:

“Cepat lakukan sebelum aku membunuh anak-anak bejat itu!”
Ibu itu segera pergi kepada pendeta dan menyatakan niatnya. Pak Pendeta setuju, tapi minta supaya ia bisa berbicara terlebih dahulu dengan anak yang berumur 8 tahun sendirian.

Maka dikirimlah anak itu kepada pak Pendeta.

Bertemulah mereka, pak Pendeta duduk di belakang meja yang sangat besar dan berhadapan dengan anak nakal itu. Selama 5 menit pertama mereka hanya duduk berhadapan dan saling menatap satu dengan yang lain. Tapi akhirnya, pendeta menunjuk dengan jari telunjuknya persis ke muka anak itu, dan bertanya:

“Di mana Tuhan?”

Anak itu melihat ke bawah meja, ke sudut ruangan, dan ke seluruh penjuru tempat, tetapi dengan diam seribu kata. Sekali lagi dengan suara keras pendeta menunjuk ke arah anak itu danbertanya:

“Di mana Tuhan?”

Lagi-lagi anak itu mencoba melihat ke seluruh ruangan dan tetap tidak erbicara apa-apa. Untuk ke tiga kalinya, dengan suara yang lebih keras dan tajam, pendeta menunjuk jari telunjuknya tepat di depan hidung anak itu, dan bertanya:

“Di mana Tuhan?”

Anak itu menjadi panik, lalu lari tunggang langgang pulang ke rumah. Ketika bertemu dengan kakaknya, ia cepat-cepat menarik kakaknya ke ruangatas, di tempat dimana mereka biasa merencanakan akal busuk mereka.

Akhirnya anak itu berkata: “Wah, celaka, Kak, kita ada dalam masalahbesar!”
Kakaknya bertanya: “Apa maksudmu kita ada dalam masalah besar?”
Anak itu menjawab: “Kayaknya Tuhan hilang, dan mereka pikir kitalah yang mencurinya…!”

                   Sopir dan Pendeta

Pada suatu hari pendeta dan seorang supir bus meninggal dunia.
Oleh seorang malaikat si supir dimasukkan ke surga sedangkan si pendeta dimasukkan ke neraka. Si pendeta tidak terima,katanya:

“Saudara malaikat, kenapa si supir itu dimasukkan ke surga sedangkan saya dimasukkan ke neraka ?”

Si malaikat menjawab: “Pada waktu kamu masih hidup dan berkotbah banyak yang hadir (jemaat) tertidur, sedangkan pada waktu si supir hidup dan mengendarai busnya, semua penumpang berdoa agar tidak terjadi kecelakaan, jadi si supir banyak membuat orang ingat akan Tuhan”

                     Nasihat Pendeta

Seorang pemuda yang akan berangkat ke ladang misi pamit pada Pendetanya.
“Pa, minta doa. Besok saya akan pergi ke ladang misi,” katanya.

“Pergilah, Nak. Hati-hatilah di negeri orang, kau harus pandai bergaul, supaya banyak menenangkan jiwa.”

“Bagaimana resepnya, Pa?”

“Ya, jika kau bertemu dengan tukang tahu, bicaralah soal tahu. Jika bertemu dengan tukang lontong, bicaralah soal lontong, dan jika bertemu dengan tukang sayur, bicaralah soal sayur.”

“Bagaimana, jika bertemu dengan ketiganya, Bapa?”

“Ya, bicara saja soal gado-gado, Nak..”

                     Yang Mau Menikah Maju

Seorang pendeta dijadwalkan akan memimpin upacara pemberkatan nikah setelah kebaktian Minggu.

Ketika kebaktian akhirnya selesai, ia pun akan memanggil pasangan yang akan dinikahkan itu. Namun, pak pendeta tersebut tiba-tiba lupa nama pasangan yang akan menikah itu, jadi ia pun berkata, “Yang mau menikah, tolong maju ke depan ….”

Dan segera, empat gadis, tiga janda, empat duda, dan enam pemuda berebut maju ke depan.
 
Dikirim oleh e-ketawa, 28 Sep 2006

                 Ayat yang Cocok Untuk Perkawinan

Seorang guru Sekolah Minggu menguji anak-anak kelas besar dengan hapalan ayat.

“Siapa yang bisa menyebutkan ayat yang sesuai untuk pembaptisan?”

“Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum,” jawab seorang anak.

“Bagus. Nah, bagaimana kalau ayat untuk pengampunan?”

“Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.”

“Wah, ternyata kalian pintar-pintar. Coba sekarang, sebutkan ayat yang cocok untuk perkawinan!”

Ternyata kali ini tidak ada yang tahu. Namun, beberapa saat kemudian, seorang anak mengangkat tangan dengan malu-malu.

Ia pun mengucapkannya pelan-pelan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

                               

                               TIGA NERAKA

Seorang pria jahat mati dan disambut oleh Santo Petrus. Petrus
memberitahunya bahwa ia harus memilih salah satu dari tiga jenis
neraka.

Neraka pertama sangat panas dan ia melihat banyak orang terbakar dalam
api. Neraka berikutnya sangat dingin dan ia melihat orang menggigil
dan meratap. Di neraka ketiga, ia melihat orang-orang berdiri di
kubangan kotoran setinggi pinggang tapi mereka nampak bahagia. Mereka
minum segelas kopi dan saling ngobrol. Karena itu, pria jahat tadi
berkata kepada Petrus, “Aku pilih neraka ketiga.”

Petrus memasukkan pria itu ke neraka ketiga. Ia mendapat segelas kopi
dan cukup menikmatinya. Tiba-tiba ia mendengar suara dari pengeras
suara yang berkata, “Perhatian. Perhatian. Waktu minum kopi sudah
usai. Sekarang waktunya kalian berdiri dengan kepala kalian.”
                                                                           

                                    

                                 MATI MENDADAK

Sebuah kelompok belajar Alkitab sedang mendiskusikan kemungkinan untuk
mati mendadak.

“Kita semua pasti mati suatu hari nanti,” kata pemimpin diskusi, “dan
tak satu pun dari kita tahu kapan itu terjadi, tapi jika seandainya
tahu, kita pasti akan benar-benar menyiapkan diri sebelum saat itu
terjadi.” Semua orang menganggukkan kepala tanda setuju.

“Apa yang kamu lakukan jika kamu tahu kamu hanya punya empat minggu
sebelum mati, sebelum dihakimi?” tanya pemimpin diskusi.

“Selama empat minggu itu, aku akan menginjili orang-orang belum
percaya yang ada di komunitasku,” kata seorang pria.

“Mulia sekali,” kata si pemimpin. Semua orang pun setuju.

“Selama empat minggu, aku akan mengabdikan sisa hidupku untuk melayani
keluarga, gereja, dan teman-temanku dengan lebih sungguh-sungguh,”
kata seorang wanita dengan antusias.

“Bagus sekali!” kata si pemimpin. Semua orang pun setuju.

Seorang pria di bagian belakang akhirnya berkata dengan keras. “Selama
empat minggu itu, aku akan berkeliling Amerika dengan ibu mertuaku.”

Semua orang bingung. “Mengapa kamu ingin melakukan hal itu?” tanya si
pemimpin.

“Karena,” kata pria itu tersenyum menyindir, “saat itu akan menjadi
empat minggu terlama dalam hidupku.”
                                                                  
                     

                         LIMA RATUS BEBEK

Seorang guru pria berkata kepada dua orang muridnya yang sedang
ngobrol, “Dua orang wanita bicara, ributnya bisa menyamai seribu ekor
bebek.”

Waktu istirahat tiba, pacar guru tersebut datang ke sekolah
mencarinya. Seorang murid wanita segera datang ke kantor guru dan
berkata, “Pak guru, di ruang tamu ada lima ratus ekor bebek mencari
bapak.”
______________________________________________________________________

“… dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.
Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,”
(Titus 2:7)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Titus+2:7 >
                                                                               

                             

                                 SEPAK BOLA GILA

Ada 26 orang gila, mereka mau diuji kesehatan mentalnya di Amerika.
Mereka diangkut pake pesawat Hercules yang besar! Saat di udara,
orang-orang gila itu berisik karena bermain bola di dalam pesawat.
Sang kapten marah dan menyuruh co-pilot untuk menenangkan mereka.

“Hoi! Berisik banget sih! Jangan maen bola di dalem pesawat dong!”,
bentak co-pilot kepada orang-orang gila.

Akhirnya situasi menjadi tenang. Tapi lama-lama si kapten curiga
karena situasinya terlalu tenang. Dia menyuruh lagi co-pilotnya untuk
cek ke belakang.

Ketika co-pilot datang, dia kaget setengah hidup! (setengah mati juga,
sama aja kan :p). Orang gilanya tinggal empat orang! “Hei, kalian! Koq
tinggal berempat? Yang lain ke mana?” “Abisnya ga boleh maen bola di
dalem kapal sih. Mereka jadi main bola di luar.”

“Hah?! Terus, kalian kenapa bisa ada di dalam?”

“Kan kita pemain cadangan ….”
______________________________________________________________________

“Siapa bijak hati, memperhatikan perintah-perintah, tetapi siapa bodoh
bicaranya, akan jatuh.” (Amsal 10:8)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Amsal+10:8 >

                                                                                

Leave a response and help improve reader response. All your responses matter, so say whatever you want. But please refrain from spamming and shameless plugs, as well as excessive use of vulgar language.

Respond now.